“Der (Bruder)……, ngga usah pulang”
Sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan bagi para novis dari kongregasi bruderan La Mennais (FICP) yakni “ LIVE IN”. Kedua novis ini (Herman dan Ozwind), setiap tahun dari aspiran hingga masa formasi novisiat sekarang selalu menjalani kegiatan ini.
Kali ini, tepatnya tanggal 13 sampai 23 Desember 2011, kedua novis menjalani “ Live In” selama sepuluh hari di sebuah panti Asuhan putra dan putri milik kongregasi susteran AK (Abdi Kristus).
Panti Asuhan yang namanya “SANTO THOMAS, NGAWEN” itu, letaknya di atas gunung yang sangat sejuk dan jauh dari kota Jogjakarta yakni di paroki kelor, Ngawen, Gunung Kidul, Jogjakarta. Maka, kedua novis ini harus menempuh waktu sekitar dua jam. Perjalanannya sangat membingunkan karena alamat yang diberikan kurang jelas. Syukurlah kami tidak malu bertanya pada orang yang kami jumpai. Itu karena kami teringat sebuah ungkapa: “ Malu bertanya pasti tersesat, lho….”, syukur kami ngga lapar, kalau lapar pasti minta makan di emperan jalan, lho..”. Namun, kami merasa senang karena akhirnya bisa sampai di tempat tujauan.
Kami diterima oleh para suster, pengasuh (mba Shanta,Shinta,mas Rino), dan anak-anak panti dengan wajah yang ceria, tak lupa juga dengan senyum mereka yang manis-manis dan imut-imut, lho..! Di panti asuhan banyak kegiatan yang kami lakukan bersama dengan anak-anak panti baik putera maupun puteri, seperti kerja bakti, kerja di sawah, olahraga, rekreasi, doa, makan dan minum bersama, dekor dan buat kandang natal bersama. Selain itu, kami membantu para mahasiswa dan mahasiswi dari Sanata Dharma yang KKN di paroki Kelor, Ngawen untuk mengadakan rekoleksi siswa atau siswi SMP, memimpin doa di lingkungan. Kemudian, pada hari terakhir kami Jalan-jalan bersama ke Gunung Gambar yang menurut cerita penduduk setempat bahwa di tempat ini seorang pangeran yaitu pangeran Sambernyowo (sambarNyawa) melakukan partapaan sekaligus mengatur strategis untuk melawan Belanda. Dan, tepatnya hari Jumad, 23 Desember, kedua novis FICP berpamitan dengan anak-anak panti asuhan untuk kembali ke komunitas novisiat dan melanjutkan formasi pada masa novisiat. Diantara mereka ada yang menangis bahkan mengatakan; “ Der, ngga usah pulang, biarin tinggal dengan kami di sini aja!”. Mereka sangat membutuhkan kehadiran kami di tengah-tengah mereka karena selama berada bersama mereka, ada anak-anak yang sangat terbuka melalui shering pengalaman tentang keluarga mereka yang kurang mampu, ada yang tinggalkan orangtua, tentang relasi dengan pacar mereka, dan lain-lain.
Saya sendiri (Herman) sangat terkesan dengan pola hidup mereka. Mereka sudah mulai di didik dan di latih untuk hidup sederhana, di siplin, mandiri, kerja keras, dan berdoa. Maka melalui pengalaman kebersamaan kami dengan mereka sangat membantu kami sebagai calon bruder FICP yaitu bruder pengajar yang setiap hari akan bertemu dengan anak-anak yang tidak jauh berbeda dengan mereka. Kami yakin bahwa mereka sangat membutuhkan kami untuk menolong mereka baik dalam pengetahuan maupun situasi sulit yang sedang mereka hadapi. 
Terima kasih untuk anak-anak panti asuhan Santo Thomas, Ngawen, Gunung Kidul, Jogjakarta. Kami mendapat banyak pengalaman entah suka maupun duka ketika bersama-sama dengan kamu. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Selamat hari raya natal 2011 dan tahun baru 2012 bagi pembaca semuanya. Salam doa dari Herman dan Ozwind.
Oleh, Nov. Herman, FICP

