Artikel

On the journey with the children

Ditulis oleh Super User. Posted in frontpage

br-frencky-bsrSummer camp in Antique-San Remigio - Philippine
TO BE ANGEL AND SHEPHERD FOR CHILDREN

st-remigio-01San-Remigio adalah sebuah desa kecil di atas puncak bukit province Antique – Philippine. Desa kecil yang cukup sejuk dengan hebusan sepoi-sepoi angin segar. Desa ini di hiasi oleh pohon-pohon hijau, dan aliran sungai kecil. Di pagi hari kita akan selalu di bangunkan dari tidur oleh kicauwan burung. San Remigio adalah tempat yang sangat indah dan nyaman.

st-remigio-02Rasanya tidak cukup hanya seminggu tinggal bersama orang muda di kampung San Remigio. Masih membekas di kening saya bagaimana orang-orang muda dengan ramah menerima kehadiran kami. Senyum manis, salam ayu, dan sandal guraw menghantar kami menjadi satu dalam keluarga. Father Serch pastor paroki juga turut dengan rama menerima kami.
Bro Andreas, Ian, dan saya menginap di rumah pastoran paroki yang juga menjadi pusat rumah orang muda. Di rumah pastoran ini selalu saja ramai oleh kunjungan orang muda. Hampir setiap hari rumah ini dikinjungi orang muda dengan berbagai aktivitas kegitaan. Ini adalah sesuatu yang unik dari desa puncak bukit ini.
Sayangnya, tidak semua orang muda dapat berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Pada umumnya mereka berkomunikasi dalam Bahasa “Kinaraya”, Bahasa local untuk province Antique. Bagi kami itu bukan menjadi masalah dalam menjalin keakraban dengan mereka. Kadang–kadang Bahasa tubuh menjadi salah satu cara dalam berkomunikasi. Bro. Andreas dengan komedi-komedi kecil membuat orang muda menjadi tersenyum bahkan tertawa. Inilah yang menjadikan kami bertiga tidak merasa orang asing di negeri asing.
st-remigio-03Pada hari kamis kami diajak para frater/seminarian untuk mengikuti acara perayaan pesta pelindung paroki St. Rita De Cascia di Sibalom tidak jauh dari desa San Remigio. Dengan mobil biru kami menuju desa Simbalom. Gereja telah dipadati oleh umat separoki. Tidak menunggu begitu lama perayan Ekaristipun di mulai. Menarik perayaan yang meriah itu dipimpin langsung oleh uskup setempat Mgr. Jose Remeo Lazo. Sayangnya perayana itu dalam Bahasa Kinaraya. Setelah Perayan ekaristi kami bersama-sama dengan bapa uskup Jose, para Imam, biarawan-ti, orang muda, makan bersama. Wow, luar biasa menu makanan ala Philippine. Dengan penuh syukur kami menikmati hidangan itu. Sambil kami menikmati daging panggang, frater Alan berbisik kepada saya katanya,” Bruder, jangan makan terlalu banyak karena kita masih harus makan di tiga tempat lagi”. Sayapun langsung melanjutkan bisikan ini ke bruder Andreas dan Ian. Kami bertiga langsung membatalkan rencana makan sampai kenyang disini. Setelah itu, kamipun harus melanjutkan siarah makan bersama dengan umat. Keluarga yang kami kunjungi sangat bahagia dengan kehadiran kami. Lagi-lagi makan, yang membuat saya terkesan adalah mereka selalu menyediakan makanan yang berbeda. Kami selalu "appreciated" semua yang mereka hidangkan. Ketika kami selesai makan di rumah ke tiga, kami memutuskan untuk pulang ke desa San Remigio karena kami sudah sangat kenyang. Pada sore hari kami melanjutkan kegiatan denagn anak-anak. Kami bertiga bermain bola kaki dan volley dengan anak-anak. Pada umumnya anak-anak berbicara Bahasa Kinaraya, tetapi diantara mereka ada beberapa anak yang berbicara Bahasa Inggris. Max, little, Claude, merekalah yang menjadi penerjemah cilik kami. Awalnya anak-anak enggan untuk bermain bersama kami, tetapi dengan senyum dan comedy kecil-kecilan merekapun menjadi akrab. Mengutip dari sepenggal kalimat spiriulitas kita” to be angel and shepherd for children”. Mungkin inilah sekelumit kecil spititual La Mennais yang sedang kami dalami dan kembangkan sebagai bekal di masa depan.
st-remigio-04Sehari sebelum meninggalkan desa San Remigio, kami bertiga membantu orang muda untuk menata dan mendekor ruangan yang akan di gunakan sebagai pembukaan hari summer camp. Bersama-sama dengan mereka kami berangkat menuju sungai yang tidak jauh dari pusat rumah orang muda. Kami bersama mengumpulkan batu-batu hias yang akan di gunakan sebagai bagian dari dekorasi. Tidak terasa hampir empat jam kami menghabiskan waktu untuk mendekorasi dua ruangan. Lagi-lagi Bro Andreas membuat komedi-komedi kecilan yang membuat orang-orang muda selalau setia menghabiskan waktu bersama kami. Kadang-kadang kami bertiga belajar beberapa kata dalam Bahasa Kinaraya, begitu juga sebaliknya mereka belajar beberapa kata dalam Bahasa Indonesia.

Sayonara,
st-remigio-05Hari sabtu hari di  mana kami meninggalkan desa tercinta San Remigio. Begitu banyak orang muda berdatangan untuk menghadiri kegiataan pembukaan Summer camp. Sebelum kami meninggalkan desa ini kami mengikuti acara pembukaan summer camp. Doa pembukaan yang didramatasikan oleh orang muda yang sangat mengguaga hati. Mereka menampilkan bagaimana orang-orang muda melihat masa depan mereka. “Mau kemanakah mereka, dan mau jadi apakah mereka”. Begitula tema doa yang disenandungkan. Dan masih banyak lagi acara yang di tunjukan oleh seniman-seniman orang muda. Untuk mengakhiri kebersaman kami dengan mereka, kami di minta menyanyiakan sebuah lagu dalam Bahasa Indonesia. Ini adalah saat yang berharga buat kami bertiga. Dalam rembuk singkat kami menyenyikan lagu terima kasih sebagi ungkapan terima kasih kami kepada semua umat di desa San Remigio. Dengan nada-nada ala Flores kami bertiga menyanyikan dengan merdu lagu terima kasih. Dengan senyum dan ucapan salam terima kasih kami meninggalkan perkumpulan orang muda.
Mengakhiri sharing pengalaman ini dengan mengutip sebuah kata bijak yang berpesan “Tuhan menciptakan pertemuan sebagai bekal untuk doa saat perpisahan”. Untuk itu marilah kita belajar dari hari kemarin, dan hidup untuk hari ini, dan berharap untuk hari esok.
Salam, Manila.
Bro. Frengky Making, FICP